Assalamualaikum semuanyaa..
Semoga kita selalu dalam keadaan sehat dan baik.
Well, sekarang
sudah tahun 2018 dan saya tidak akan mengucapkan selamat tahun baru karena udah lewat ya sist. Wkwk. Di blog kali ini saya ingin membuat Ila’s rewind 2017. Telat
banget yaa? Tapi gapapa deh biar di tahun-tahun berikutnya saya bisa
mengingat apa aja yang terjadi di 2017. Disini saya bukan hanya
bercerita, tapi in syaa Allah ada informasi atau mungkin saja manfaat yang bisa
teman-teman ambil dari blog ini. So, check this out..
Di awal tahun sampai
pertengahan tahun sebenernya gak ada suatu kejadian yang wow banget sih, hanya
saja di awal tahun tepatnya di bulan Maret finally menjadi karyawan kontrak
setelah sekitar 4 bulan kerja masih dengan status dan gaji harian. Ada apa sih
dengan status karyawan harian? Nah status karyawan harian itu, ibaratnya
nasibnya di perusahaan itu belum jelas, bisa jadi sewaktu-waktu kalau kerjaan
kita jelek atau tidak disiplin, kita bisa diberhentiin dari perusahaan. Laluuu,
gajinya juga masih dihitung harian, jadi kalau kalian gak masuk kerja, pastinya
gaji kalian juga akan berkurang. Nah makanya saya senang sekali waktu diberikan
PKWT 1 tahun dari perusahaan.
Pertengahan tahun,
pada saat lebaran, baru pertama kali merasakan bahagianya ngebagiin angpao atau
bahasa Palu nya hagala sama sepupu dan ponakan-ponakan. Alhamdulillah lebaran
juga banyak rejeki nomplok dari kantor, jadi yaa I’m so happy. Maklum baru
pertama kerja, baru ngerasain namanya pegang duit sendiri, baru ngerasain gimana
rasanya berbagi pake uang sendiri dan bisa membuat orang lain senang, terutama
keluarga (positive thinking yaa, ini bukan sombong). Jujur, saya orangnya gak
punya terlalu banyak teman sekarang. Bukannya suka milih-milih ya, tapi teman
itu terkadang datang dan pergi. Saya punya beberapa teman dekat (bisa dihitung
jari aja), tapi hampir semuanya gak di Palu, mereka semua di Malang dan hanya 1
yang stay di Palu. So that’s why, family is my everything for me. Ngumpul
bareng mereka dan ngeliat mereka ketawa aja itu udah kebahagiaan banget buat
saya. Keluarga yang saya maksud bukan hanya keluarga inti saya, tapi keluarga
besaaar saya.
Naaah sampai juga ke
akhir tahun. Cerita akhir tahun mungkin agak sedikit banyak bacot ya, karena
banyak cerita disini. Bukan cerita happy happy seperti yang diatas, tapi ada
juga cerita kegagalan dan heartbreking. Hiks. Wkwk.
Dimulai dari
pengalaman ikut CPNS dulu kali ya. Hahaha. Mungkin teman-teman yang kerja udah
pada tau ya ada penerimaan CPNS di 2017. Kalau gak salah bulan2 September. Saya
ikut CPNS periode 2 yang 60 Kementrian and I choose BNN. Singkat cerita, saya
lolos seleksi administrasi yang dilakukan secara online. Saya masuk ke tahap Seleksi
Kompetensi Dasar (SKD) pakai sistem CAT (lupa kepanjangannya apa, pokoknya tes
pakai computer) yang dilaksanakan di Makassar. Alhamdulillah dong yaa, wih gila
ke Makassar nih. Bisa tes sekalian jalan-jalan, kebetulan papa juga lagi ada
kegiatan kampus di Makassar jadi hemat duit lah yaa, semuanya di sponsori oleh
Papa, Thanks Pa :* Lanjuut, langsung ke hari H tesnya ya. Saya tesnya dapat
sesi ke 5 atau ke 6 lupa, itu sekitar jam 4 sore. Karena tempatnya jauh banget,
sekitar 1 jam kalau gak macet, saya berangkatnya dari Mess itu setengah 2. Oh
iya saya tinggal di Mess Sulteng. Sesampainya di tempat tes, di kantor BKN,
saya langsung cari tempat registrasi karena aturannya emang gitu harus tiba 1
jam lebih awal untuk registrasi dan tanda tangan daftar hadir. Dan ternyataaa
HARUS PAKAI SEPATU HITAM dan di peraturan yang dibagikan ke kita tuh gak ada
aturan pakai sepatu hitam. Panik dong ya? Udah jauh2 kesini terus gak bisa tes
gara2 sepatu. OMG ini gak bisa dibiarin. Cari temen lah saya, pastinya temen
yang sama2 gak pake sepatu hitam dan senasib sepenangguan. Akhirnya ketemu lah
si mbak2 baik yang mohon maaf lupa namanya, dia menawarkan “mbak saya mau beli
sepatu hitam, mau titip gak?” Alhamdulillah ya Allaaaah ada malaikat datang
menolongku di tengah kesendirian ini. Langsung aja saya bilang mau, saya ambil
duit, dan bilang ukuran kaki saya. Beberapa menit kemudian datanglah si sepatu
dewa yang menyelamatkan hidupku hari itu (lebaaay).
Tips: Jangan lupa bawa uang lebih kalau lagi tes dimanapun kamu berada, harus SKSD dengan sesama peserta kali aja kamu butuh pertolongan dia. Wkwk. Oh iya, pake jilbab hitam atau bawa aja jilbab hitam buat cadangan.
Singkat cerita lagi,
akhirnya saya lolos SKD dan otomatis lanjut ke Seleksi Kompetensi Bidang (SKB)
di Jakarta. Disatu sisi, I’m so excited, masih gak percaya lolos ke tahap
selanjutnya dan akan pergi ke Jakarta (fyi terakhir ke Jakarta waktu TK),
disatu sisi mikir tiket mahal, hotel mahal, jalanan di Jakarta macet, bagaimana
caranya izin di kantor, dan masih banyak lagi yang saya pikirkan. Oh iya
sebelum tes SKB, kita harus melakukan pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu di
Rumah Sakit Pemerintah jadi bukan swasta ya. Rangkaian peeriksaan
kesehatannya juga udah ada daftarnya kok dari BNN jadi tinggal bawa itu aja ke
RS nya, mereka yang arahin harus kemana dulu. Selama hidup baru pertama kali
tes kesehatan kayak gitu, tes buta warna lah, tes darah, tes urine, rontgen
paru-paru, EKG untuk jantung, tes kejiwaan/rohani, waah seru lah pokoknya. Itu
membutuhkan waktu 3 hari bolak balik RS dan bayarnya semuanya sekitar 850ribu.
Pake uang pribadi ya semuanya, gak dibayarin oleh BNN.
Tips: Kalau kalian berasal dari luar pulau Jawa dan gak punya keluarga di Jakarta, mungkin kalian harus nyiapin budget kurang lebih 4-5 juta untuk semuanya (include tiket, hotel, makan, transportasi, dan tes kesehatan).
Dan pada akhirnyaaa,
jeng jeng jeng. 2 minggu setelahnya, keluarlah pengumuman di website BNN. Lolos
ndak yaaa? Hahaha. Sayangnya pemirsa, langkahku terhenti sampai disitu saja.
Saya tidak lolos di tahap terakhir. Gagal jadi PNS. Hahahaha. Rasanya kayak
ikut Indonesian Idol, terus udah sampe audisi di Jakarta, terus di eliminasi.
Syedih. Hahaha. Duh kalau cerita tentang ini rasanya pengen ketawa ngakak. Lucu
aja. Hahaha. Oke sekian tentang kegalalan yang bikin ngakak ini. Kita lanjut ke
travel story.
Liburan natal cukup
panjang, waktunya travelling. Yuhuuu. Liburan kali ini saya pilih kota Gorontalo
sebagai destinasi tujuan saya. Kebetulan saya punya om yang kerja disana, dan
kebetulan lagi bulek, sepupu dan eyang uti juga ingin kesana untuk liburan. Jadi
sekalian deh. Hehe. Sebenarnya mau ke Malang tapi karena harga tiket Masya Allah,
jadi batal deh ke Malangnya. Gorontalo lebih low budget. Pertama kali juga nih
ke Gorontalo, jadi penasaran seperti apa kotanya.
Ternyata di Gorontalo
tidak terlalu metropolitan seperti dibayangan saya. Kotanya cukup sederhana dan
bersih. Bangunannya pun keliatannya sih tidak ada yang terlalu mencolok seperti
bangunan tinggi dan mewah. Oh iya yang menarik disana banyak sekali bentor
(becak motor). Tapi sayangnya belum sempat nyobain ☹. Selama di
Gorontalo saya berkunjung ke Benteng Otanaha, ke desa wisata religious Bubohu, saya
juga sempat ke taman Taruna Pemuda ya kalau gak salah (taman atau lapangan ya
itu?), selain itu saya juga duduk2 di pinggir dermaga untuk menikmati jagung
bakar dan pisang goroho (kalau tidak salah), saya juga sempat wisata kuliner. Tinutuan
disini super duper endues beda dengan yang di Palu. Tidak banyak tempat wisata
disini (sepertinya). Mungkin masih ada lagi tapi diluar kota Gorontalo kali ya.
Berhubung saya perginya bareng keluarga dan hanya 4 hari disana jadinya tempat
wisata yang kami kunjungi yang family friendly dan dalam kota saja. Mungkin
next time bisa explore lebih dalam lagi kota Gorontalo.
Di penghujung tahun,
tepatnya tanggal 31 Desember 2017, Fadhil dan akhirnya saya memutuskan untuk I
don’t know, maybe ta’aruf, or apalah. Intinya kami memutuskan untuk mengakhiri
hubungan kami (fyi kami tidak pacaran dari awal tapi berkomitmen dan menjalani
gaya pacaran pada umumnya). Selama setahun lebih hari-hariku menjadi lebih
happy semenjak ada Fadhil. Kenapa? Dia seorang laki-laki yang humoris, hanya
dengan membaca wa nya saja saya bisa ketawa dan senyum-senyum gak jelas apalagi
kalau ketemu. Dia juga seorang laki-laki dengan pembawaan tenang, he always
give the solution for my problem, dia tidak suka marah, dan dia sangat
mengayomi. So that’s why, he makes my day.
Beberapa bulan
terakhir alhamdulillah dia hijrah, diawali dengan dia mulai berhenti merokok,
dia mulai shalat 5 waktu di masjid, dia rajin ikut kajian atau ta’lim di
masjid, dan pada akhirnya he say “saya sekarang lebih cinta Allah daripada
cinta kau”. Gak perlu cerita detail ya, hehe. Singkat cerita, mulai hari itu
kami memutuskan untuk istiqomah di jalan Allah, saya juga kembali belajar
agama, tidak ada pertemuan (kecuali pas kajian, tidak pake jemput2 dan tidak
bersentuhan ya), chat juga sangat dikurangi (hanya dalam keadaan tertentu
saja). Ini nulisnya pake ilmu sok tegar. Haha. Padahal waktu hari-hari pertama
setiap menit itu rasanya pengen nangis. Setiap shalat itu mukena selalu basah
tanpa diminta. Pokoknya rasanya berat melalui hari-hari tanpa kebiasaan yang
selalu kami lakukan, tanpa melihat wajahnya dan tanpa candaannya :’) Masaa..?
Tips: IKHLASKAN dan TERUS BERDOA. Mintalah sama pemilikmu. Karena sesungguhnya dialah maha segalanya.
Selesaaaaaiii. Wiih
panjang juga ya lumayan. Mudah-mudahan kalian gak capek bacanya dan ada sesuatu
yang bisa diambil dari blog ini. Saya rasa cukup,
Wassalamualaikum
warahmatullah wabarakatuh...





Komentar
Posting Komentar